
Saya bayangkan diri saya duduk di teras itu sambil goyang-goyangkan kaki saya yang terjuntai. Saya pernah melakukan ini di atas dahan pohon besar sewaktu saya berusia 12 atau 13 tahun di Larantuka, Flores TImur. Waktu itu saya bermain dengan sepupu-sepupu yang tinggal di sana. Sampai kami temukan pohon besar yang dahannya menjulur horisontal sehingga kami dapat duduk di atasnya sambil menggoyang-goyangkan kaki. Menyenangkan.
Seingat saya rumah pohon pertama kali mampir di benak saya ketika saya SD kelas 3 atau 4. Saya dapat imajinasi rumah pohon dari buku Pippi berkaus kaki panjang karya Astrid Lindgren. Pippi ini berusia 9 atau 10 tahun yang tinggal di desa kecil, kalau tak salah ingat di Swedia sana. Pippi suka memakai kaus kaki panjang bergaris-garis. Perempuan berambut panjang berkuncir dua ini punya dua sahabat. Mereka selalu bertualang dan memperoleh banyak pengetahuan dari petualangannya itu. Saya lupa di bagian mana saya mendapati imajinasi Pippi duduk di dahan pohon. Mungkin saja rumah di atas pohon hanyalah imajinasi tambahan saya saja ketika baca buku itu.
Dan sampai saat ini saya masih ingat dengan imajinasi saya itu. Niat saya suatu hari saya bisa berdiam sejenak di sebuah rumah pohon. Yang sederhana. Asal saya bisa menikmatinya dengan orang terdekat saya. Biar kami bisa membagi kehidupan di antara sela-sela dedaunan.
Sunter, Juni 2010. sudah jam dua pagi rupanya.
