Monday, 24 January 2011

sejenak tinggalkan Jakarta, ini yang saya mau !

Saya putuskan ke Indramayu, Jawa Barat, kemarin. Sudah lama, hampir 2 bulan mungkin, saya ingin ke luar Jakarta. Ingin meliput sesuatu yang menarik di luar ibukota, merasakan udara bersih, memandang langit cerah, berkawan dengan senyap, dan mengenal manusia lain di tempat berbeda.

Maka, pergilah saya ke Pasar Rebo kemarin pagi. Saya naik bus Luragung tujuan Kuningan. Di Eretan, 1 jam sebelum kota Indramayu, saya menapakkan kaki. Dan, segera bau amis ikan menyerang hidung saya. Ah, iya, ini dia yang saya cari ! Senangnya berada di luar Jakarta. Bahagianya saya menghindari kerutinan.

Bila di Jakarta saya mengetik berita di kantor, maka sekarang saya tengah mengirim berita dari warnet Double Click di kota Indramayu. Setelah setengah jam lalu saya turun dari becak yang mengantar saya dari hotel tempat saya bermalam. Ya, ini dia yang saya mau ! Pergi sendiri di tengah keasingan.

Ketika mengetik berita di warnet, sekarang ini, badan saya masih saja pegal. Sisa-sisa kelelahan ini masih menempel setelah saya berpusing-pusing di Desa Dukuh Kerupuk, dekat terminal Sindang. Juga sisa kecapaian sehabis mewawancarai pengusaha batik indramayu. Tapi saya tidak capai hati, karena ini yang saya cari ! Rasa lelah sehabis liputan. Juga kepuasan setelah berjalan kaki dan mewawancarai orang-orang.

Tuesday, 14 December 2010


Ini OO, kura-kura saya. Dia berjenis radiata. Perempuan satu ini asalnya dari Madagaskar, satu negara pulau di Samudera Hindia sana. Masih balita dia, baru 10 bulan. Saya dapatkan dia dari seorang kawan amat-dekat. Si kawan ini sebenarnya membeli kura-kura itu untuk dijual ke kawan lain. Namun, ketika tahu saya suka ketika kali pertama melihat hewan reptil ini, ia langsung memberikan ke saya.

OO makan banyak saban hari. Kesukaannya sawi hijau dan selada. Seikat sawi hijau yang berisi 7 hingga 8 lembar sawi bisa dihabiskan sehari. Selada pun sama banyaknya. Pagi keesokan hari ia akan menghiasi lantai kamar saya dengan kotorannya, berjalan menyeret sisa kotoran, dan duduk di atas kertas memberi tanda ia sudah beres buang air besar. Saya cuma bisa mengumpat sambil memegang OO dengan gemas. Lantas, mencuci dan menyikat tubuhnya dengan sikat gigi kecil. Si kecil ini pun suka jilat remah-remah biskuit.

OO sekarang saya tinggal di kamar. Jalan-jalan saja kerjanya. Sesekali dia duduk lama, menggerakkan kepala ke kanan-kiri, entah melihat apa. Ini beda dengan dulu ketika saya baru mendapatkannya. Dulu, saya kerap membawanya ke tempat liputan. Biasa saya taruh di tempat kue bundar yang saya ambil dari lemari dapur rumah. Saya masukkan ke tas dan memberinya celah udara lewat resleting tas yang sedikit terbuka.

Rencananya, OO akan ikut kontes jalan cepat kura-kura bulan depan. Tak harus menang, OO. Yang penting kamu bisa bertemu kawan-kawan baru.



Malam dengan tak ada makanan untuk OO

semangat fatamorgana untuk tempat anda

Saban bangun pagi saya yakinkan diri untuk bersemangat ke tempat anda. Semangat yang didedikasikan untuk semangat. Dan, mulailah saya mandi, berpakaian, merapikan tas, dan melenggang ke tempat anda. Sampai di sana sana menyapa seorang manusia di bawah, kemudian jika ada sapa sedikit manusia yang saya temukan di tengah tangga. Lantas, saya berhadapan dengan pintu anda. Sejenak saya berdiri terpaku di depannya untuk merapikan semangat.

Saya buka pintu, melangkah, dan melewati beberapa manusia yang tampak sibuk. Sampai-sampai tak menoleh untuk mengatakan “hai” atau “selamat pagi” atau “apa kabar”.

Dan, sampailah saya di depan kursi yang sudah menjadi kursi-saya. Menekan tombol power pada CPU sampai menunggu layar komputer hidup. Tengok kiri-kanan, ada si manusia ini, ada manusia itu, ada manusia anu. Seperti biasa, semua manusia tampak sibuk di depan komputer. Kala layar monitor sudah menyala, mulailah saya menjadi manusia yang lakunya serupa dengan manusia lainnya.

Semangat masih ada, saudara-saudara. Ya, masih ada. Buktinya, jari-jari tangan saya sibuk menekan tuts keyboard. Terkadang saya sibuk dengan gagang telepon, bicara ini-itu, sambil garuk-garuk kepala. Semua berjalan seperti itu sampai tiga jam, lima jam, tujuh jam. Terus begitu. Sampai semua hal yang saya lakukan dinyatakan selesai. Dinyatakan oleh warna-warna di layar monitor.

Lagi, seperti biasa, saya sadari semangat itu sudah tiada. Semangat untuk dirinya sendiri, semangat untuk semangat. Lantas, saya berjalan keluar, melangkah gontai ke arah pintu sambil memegang botol minum yang airnya sudah tak ada. Selesai. Tugas saya selesai. Dan, manusia-manusia itu masih sibuk. Tak menoleh atau mendongak sedikit pun.

Keluar tempat anda saya bernafas lega karena saya tahu saya sudah menjadi manusia sesungguhnya dan akan bertemu manusia lain yang juga sesungguhnya. Bukan manusia di tempat anda yang sudah beridentitas robot.



Hari yang menjemukan usai keluar dari tempat anda.

Sunday, 12 September 2010

Saudara-saudara, kita harus bertemu


Seorang kawan datang dari Bandung ke Jakarta. Entah sejak kapan. Katanya ia harus menjaga keponakan-keponakannya yang ditinggal para pengasuh yang harus mudik Lebaran. Maka, tercetuslah ide kami untuk berkumpul bersama kawan lainnya. Dengan niat menggebu, sejak pagi tadi saya mengirim sms ke empat kawan. Isinya mengajak bertemu untuk saling berbincang. Berbagi cerita kehidupan yang kami lewatkan berbulan-bulan lamanya.

Mulai jam 9 pagi jari-jari saya sibuk mengetik pesan singkat ke Munthe, Karina, Lusi, dan Intan. Tanggapannya sama, mau saja bertemu. Kecuali Karina yang tidak bisa ikut bertemu lantaran ibunya sakit. Baiklah, satu gugur.

Empat lainnya, termasuk saya, masih saling mengirim sms mengatur waktu dan tempat pertemuan. Waktu dipastikan sore jelang malam. Tempat bertemu tidak jelas. Ini karena posisi kami masing-masing tersebar: Munthe di Kuningan, saya di Kebayoran, Lusi di Utan Kayu, Intan entah di mana. Sampai jam 5 sore belum juga datang kabar kepastian waktu dan tempat. Hmm.. Jangan sampai pertemuan ini gagal, pikir saya. Harap-harap cemas saya nantikan jawaban mereka. Jam 6 sore Lusi tawarkan bertemu di Plaza Semanggi. Sayangnya, tawaran itu tidak cepat ditanggapi kawan lain, juga saya. Munthe bersedia saja datang ke mol di jalan Sudirman itu. Saya juga setuju. Intan belum juga berkabar.

Tak berapa lama, Lusi batalkan pertemuan karena dia harus cepat pulang. Dia harus cepat tidur karena harus masuk kerja jam 6 pagi esok. Ya baiklah, satu lagi gugur. Tinggal saya, Munthe, dan Intan. Kami masih saling kirim pesan menyampaikan posisi masing-masing. Kesepatakannya, bertemu di kawasan Blok M. Kawasan ini kami pilih karena tidak jauh dengan kos saya, rumah Intan, dan rumah opung Munthe. Selama di Jakarta Munthe berdiam di rumah opungnya, menjaga keponakan-keponakannya. Dan, ternyata ada kejutan berikutnya: turun hujan. Ini bukan hujan biasa, melainkan hujan disertai angin kencang dan petir yang terus bersahut-sahutan.

19.30 hujan masih mendera. 20.00 bertambah deras. 20.30 hujan belum juga pulang. Sms mulai berisi nada pesimis untuk bertemu. Dan betullah, pk 21.00 kami sepakat tidak bertemu. Huh, lagi-lagi tidak bisa berbagi cerita dengan kawan-kawan gila itu. Sampai di kos saya nyalakan musik dan tak sengaja melantun lagu Etalase milik Sore.

Semua sahabat yang pernah menghangatkan hidup
Satu persatu, menghilang…
Seiring waktu yang makin lama
Kian menua

Tapi kita coba kenangi semua,
Walau t’lah tiada
Bagai etalase jendela…

Tapi saya tidak mau kawan-kawan konyol itu menghilang dan menjadikan mereka sebagai pajangan di etalase. Secepatnya saya sambar handphone, mengetik pesan dan mengirimnya ke Munthe. Dia kabarkan akan pulang ke Bandung Rabu atau Kamis pekan ini. Saya sampaikan isi pesannya ke Intan sekaligus minta Intan atur pertemuan sebelum Munthe kembali ke Bandung. Harus dan harus kami bertemu. Jadi, tolong ya Intan bocah-bocah itu diatur agar kita bisa bertemu. Rindu kalian…


PS: Lus, maaf ya ente ga ada di foto itu. Tak punya saya foto kita berlima.


Kebayoran Lama

Friday, 6 August 2010

Sampan dan Kereta Listrik Mampir di Kota Ambon


Orang Kota Ambon rupanya tidak begitu suka minum kopi. Buktinya, saat saya tanya ke toko oleh-oleh khas Ambon di Jalan Sangadji mereka tidak memiliki kopi khas Ambon. Malah si penjual menyarankan saya beli Indocafe Coffemix di minimart sebelah. Saya juga sempat bertanya dua warga Ambon mereka jawab biasa mengonsumsi Coffemix. Ketika saya ke kedai makan saya pesan kopi, si penjual menjawab tidak sediakan kopi. Dia malah bikinkan saya kopi Kapal Api.


Beralih ke kopi saya tanya ke penjual oleh-oleh merek teh yang biasa dibeli orang Kota Ambon. Katanya teh merek Sampan cukup digemari di ibukota Maluku itu. Mudah ditemui di minimart di seantero Kota Ambon. Segera saya bergerak menuju sebuah minimart dan menemukan kotak-kotak teh merek Sampan. Saya putar kotaknya ternyata itu teh diproduksi di Surabaya. Di sebelahnya berjejer teh merek Kereta Listrik. Lucu juga ada teh merek begini. Saya lihat di bagian bawah kotak, aha.. rupanya teh Kereta Listrik dibuat di Jakarta. He eh, saya terbang dari Jakarta ke Kota Ambon dan temukan teh keluaran Jakarta.


Pastinya tidak mungkin menemukan teh keluaran Ambon. Karena Kota Ambon yang biasa dilingkupi suhu 25˚ Celcius tidak mungkin ditanami daun teh yang biasa hidup pada suhu 16-25 derajat Celcius. Tak jadi heran saya, teh-teh di Kota Ambon beralamat di Jakarta dan Surabaya.


Sunday, 18 July 2010

pada lalu






Baiklah manusia itu punya keterbatasan untuk memiliki tempat dan masa. Ia dikungkung menyeluruh sekaligus dibatasi bagian per bagian oleh ruang dan waktu. Baik, karena keterbatasan itu menjadikan manusia punya masa ruang dalam babak: lalu, kini, dan mendatang. Sekarang saya hidup di babak kini, dengan simpan memori babak lalu, dan harapan di babak mendatang.

Saat ini saya menghirup udara pagi subuh di Utan Kayu, Jakarta Timur. Sembari melayang ke lima tahun silam saat saya injak kaki kali pertama di kampus Unpad, Jatinangor. Saya hanya bisa melayang membawa pikiran dan jejak rasa. Dan saya perlu alat bantu untuk semakin menguatkan memori saya: foto.

Tidak terangkum semua memang kehidupan lalu di foto-foto ini. Namun, setidaknya ia membantu saya mengolah lagi masa lalu itu.

Sunday, 20 June 2010

Senja saya di mana ?

Sudah lama saya tidak melihat senja. Kali terakhir, seingat saya, mmm.. aahhh lupa. Bukan senja lagi yang saya kawani. Kerap malam yang jadi teman saya. Saya rangkul malam ketika keluar dari kantor dengan rasa lelah yang teramat. Telusuri jalanan Jakarta sambil malam masih akrab di bahu saya. Sampai mengucapkan selamat tinggal kepada malam ketika pagi datang saat saya duduk di taman kota. Lantas, saya hadapi satu dua berkas sinar matahari yang lama-kelamaan menjadi siang terik di atas kepala. Dan, saya menghilang entah di gedung mana. Lalu, kembali hadapi malam.

Dan saya tersadar senja saya hilang.


mengawani malam di utan kayu