Ini feature radio pertama saya di KBR68H: http://www.facebook.com/notes/saga-kbr68h/yustisia-mencari-keadilan/348105329914. Bagi saya perjalanan menelusuri kisah Yustisia amat menyenangkan. Walau, sebenarnya sulit dan mendebarkan. Dari sulit dapatkan narasumber, membujuk korban bercerita, sampai bolak-balik kantor polisi-pengadilan-kejaksaan. Dan mereka semua di Bekasi, yang jarak perjalanan naik bus dari rumah saya dua jam. Namun, dari segalanya yang paling berat ketika saya menulis ceritanya. Huh, sungguh berat. Karena saya harus membayangkan perempuan itu dipaksa, dipukul, dan diperkosa. Hampir saja saya katakan “tidak sanggup” ke editor feature di kantor. Tapi, tidak. Saya pikir saya harus menuliskannya, membaginya kepada siapa pun. Supaya jika ada perempuan yang dipaksa bersetubuh ia tidak tinggal diam. Ia harus berjuang menyeret pelaku pemerkosa ke jalur hukum hingga masuk bui.
Thursday, 18 March 2010
Thursday, 4 March 2010
kau terlalu apa adanya
Suatu malam di taman kota kita duduk bersama. Diawali sedikit basa-basi yang terlalu basi sampai kecewa saya padamu tak tertahan lagi. Lalu saya bunuh kecewa itu dengan berdiam diri, menikmati kopi dan hembusan rokok. Dan kau masih bercerita tentang segala aktivitas dan rasamu. Hanya soal dirimu. Sekali lagi, hanya dirimu. Sampai saya pikir kau hanya berkicau tak karuan untuk sumbang suara di malam itu.
Mungkin dua jam kemudian baru kita bicara serius. Di waktu itu saya luapkan segala kekecewaan saya padamu. Semuanya, hingga tak bersisa sedikit pun. Dan kau jawab “saya begini adanya.” Jawaban sama seperti sebulan lalu, empat bulan lalu, enam bulan lalu, setahun lalu. Oh, hidup begitu dinamis bung. Tapi kau bertahan dengan sikap dan sifat “keakuanmu”. Kau hanya ingin dimengerti. Kau terlalu apa adanya.
Kau tahu? Saat itu saya hampir meninjumu biar kau terjungkal, kepalamu terbentur tanah, dan kau sadar betapa saya kecewa setengah mati padamu. Namun, lagi-lagi kemengertian saya padamu mengalahkan emosi itu. Saya terlalu memahamimu sampai saya paham keakuanmu.
“Saya malu padamu karena telah mengecewakanmu. Maaf.”
Itu kalimat yang kerap saya dengar, bung dari mulutmu. Dan kau ulangi lagi di malam itu. Tanpa ada solusi untuk ubah diri biar kecewa saya luntur. Tanpa ada pertanyaan apa mau saya.
Kau terlalu apa adanya.
“Jadi, kita berbeda jalan saja. Saya belok.”
Raut wajahmu tak yakin saat mengucapkannya. Tapi kau ulangi sekal lagi dan sekali lagi. Kuhitung tiga kali kau mengucapkan kalimat itu. Dan jadilah demikian.
Lantas, kita akhiri pembicaraan dengan berjabat tangan dan lempar senyum.
Dan, malam ini saya teringat malam lalu di taman kota dan malam satu setengah tahun lalu. Ada kesamaan rupanya. Kita buka dan tutup perjalanan kita dengan manis.
Wednesday, 9 December 2009
babi menari di atas petani
Si petani bingung melihat para babi.
Para babi tak peduli dan terus menari, berlenggak-lenggok kian-kemari, dengan lekukan tipis pinggulnya.
Si petani tersenyum, kemudian tertawa, lantas tertawa terbahak-bahak.
Para babi bergumam mengirim suaranya ke atas langit, biar didengar dewa babi.
Si petani mengernyitkan dahinya tanda tak mengerti suara para babi.
Para babi mengerlingkan mata ke arah si petani, bertanya mengapa si petani tertawa keras.
Si petani semakin tak mengerti arti suara babi.
Para babi berhenti menari, kemudian berlari kecil ke arah si petani.
Si petani dikepung para babi, ditendang dan dipukuli.
Para babi puas.
Si petani mati.
Siang yang resah di Blok M
Friday, 13 November 2009
kadang hidup butuh amplop, bung!

Kawan saya itu bercerita suatu sore lepas liputan ia pulang dibonceng wartawan “terima amplop”. Dalam perjalanan mereka membicarakan kondisi pertemanan antara kubu “tolak amplop” dan “terima amplop.” Kubu “tolak amplop” ini dipimpin seorang wartawan sebuah media massa besar. Ia yang merekrut wartawan-wartawan baru untuk masuk ke kubunya dan mendoktrin mereka agar tidak bergaul dengan para wartawan “terima amplop”. Begitu hebatnya doktrin itu sampai-sampai wartawan “tolak amplop” tidak mau berbicara dengan wartawan “terima amplop”, walau saling berhadapan sekalipun, di depan ketua kubu “terima amplop.” Namun, jika sang ketua tidak ada maka para wartawan itu akan saling bercerita. Kalau sang ketua datang segera saja perbincangan berhenti dan anggota kubu wartawan “tolak amplop” akan memisahkan diri.
Tidak sebatas pergaulan saja ternyata. Hingga mewawancarai narasumber pun perseteruan masih terjadi. Jika narasumber tengah dikerubungi banyak wartawan biasanya para wartawan itu akan melontarkan pertanyaan apapun yang ditangani narasumber. Suatu kali wartawan “terima amplop” bertanya kepada narasumber. Segera saja ketua wartawan “tolak amplop” mendelik ke arah wartawan-wartawan kubunya dan segeralah mereka mematikan alat perekam masing-masing dan berhenti mencatat. Sang ketua pun mengernyitkan dahi ke arah wartawan “tolak amplop” dan menilainya melontarkan pertanyaan bodoh.
Kali lain ada pemilihan ketua wartawan di instansi itu. Kandidat ketuanya ada dua, seorang dari kubu “tolak amplop” dan seorang lagi kubu “tolak amplop.” Dengan teriakan “dicari ketua yang bersih” sang ketua kubu “tolak amplop” segera mendekati para wartawan yang tidak masuk kubu mana pun untuk memilih kandidat “tolak amplop”. Saat proses pemilihan kedua kandidat itu setara jumlah pemilihnya. Akhirnya dibuatlah tahap akhir pemilihan. Sang ketua “tolak amplop” semakin gencar mendekati para wartawan netral untuk memilih wartawan bersih. Saking khawatirnya, sang ketua pun mengancam akan membeberkan rekaman percakapan antara kandidat ketua dari kubu “tolak amplop” dengan seseorang yang memberinya amplop, di depan para wartawan. Rekamannya sudah ia pegang, tinggal diputar kalau si kandidat wartawan “tolak amplop” itu menang. Di akhir pemilihan pemenangnya wartawan “tolak amplop”. Alhasil, rekaman itu tidak jadi dibunyikan.
Dalam perjalanan berkendara motor wartawan “terima amplop” bercerita kepada kawan saya. Ia bilang gajinya tidak cukup untuk menghidupi anak istrinya jika ia tak terima amplop. Intinya, ia butuh amplop. Penghasilannya 3,8 juta. Terima gaji langsung dipotong kredit rumah 1 juta. Satu juta lainnya untuk biaya tranportasi liputan, makan saat liputan, dan pulsa handphone. Sisanya, 1,8 juta untuk anak istri plus belanja makan plus tagihan listrik plus tagihan air dan plus plus lainnya.
“Nggak cukup 1,8 juta itu. Anak gue minum susunya kuat. Dalam sebulan bisa 200 ribuan gue keluar duit buat beli susu kaleng. Belum yang lain-lain,” kutip kawan saya.
“Gue emang terima amplop tapi gue ga memeras. Kalo dikasih ambil, ga dikasih yah ga apa,” kutip kawan saya lagi.
Ketika kutipan-kutipan itu selesai terlontar dari mulut kawan saya, kami terdiam, kemudian mengangguk-anggukkan kepala. Saya bilang saya berlatar belakang jurnalistik yang berbalut idealisme jurnalistik, salah satunya tak terima amplop. Saya meyakini kuat doktrin itu. Namun, cerita itu membuat pandangan saya berubah. Doktrin itu menjadi usang, tak berlaku lagi, basi.
Apakah dapat dibenarkan si wartawan tolak amplop ketika di rumah si anak menangis minta susu? Belum lagi istri minta uang belanja dan uang segala tagihan?
Atau sebenarnya ini bukan perkara benar atau salah, bukan perkara etika?
Entah ini disebut masalah apa. Buat saya ini masalah perut. Tidak hanya perut si wartawan, tapi perut dua manusia lainnya yang tunggu makan. Seperti siang tadi saya lapar sangat dan saya keluarkan uang 12 ribu rupiah untuk bisa santap nasi rames. Ya, perut harus diisi ketika lapar. Buat energi untuk bisa kerja lagi. Dan saya bisa keluarkan uang sebanyak itu tanpa perlu memikirkan makan untuk anak suami saya misalnya. Saya tak perlu terima amplop karena saya tidak mau, kantor tidak mengizinkan, dan kondisi saya memungkinkan saya untuk bilang “cukup” atas penghasilan saya. Itu kondisi saya. Lantas, bagaimana dengan kondisi wartawan “terima amplop” itu? Kalau dia tidak terima amplop darimana duit untuk makannya saat liputan? Itu berarti dia tidak maka, tidak punya energi untuk liputan, tidak menghasilkan berita, ditegur kantor, dan bisa saja dipecat. Tidak bisa dikatakan sama, kan? Juga tidak bisa menghakimi “karena dia terima amplop dia bukan manusia idealis dan tak perlu berkawan dengannya”, bukan?
Huff... Cerita siang tadi masih saja menggantung dalam ingatan sampai transjakarta membawa saya menuju Utan Kayu. Dan ketika saya berhadapan dengan komputer kantor dan membagikannya di sini.
Friday, 18 September 2009
Ikan Cupang di Waktu Luang
Sunter, kurang lebih 15 tahun lalu. Banjir melanda. Dan saya senang bukan kepalang karena bisa mencari ikan di air yang meluap dari selokan. Ikannya kecil. Saya dan kawan-kawan memanggilnya ikan cupang. Yang saya tahu ikan di selokan, berwarna hitam dan ukurannya kecil, sudah pasti namanya ikan cupang. Selepas lonceng sekolah berbunyi pertanda berakhirnya waktu belajar saya dan kawan-kawan janjian bermain banjir dan mencari ikan.
Pulang sekolah dengan langkah berjinjit saya masuk ke dalam dapur rumah. Tengok kanan kiri tak terlihat seorang pun. Saya ambil saringan bulat yang biasanya dipakai mama saya untuk menyaring santan kelapa. Saya bawa saringan itu keluar rumah dan segera bergabung dengan kawan-kawan saya. Yang bawa saringan ternyata cuma saya. Lainnya bertangan kosong.
Akhirnya kami mulai misi pencarian ikan cupang. Dari selokan besar sampai selokan kecil. Dari jalan besar depan sekolah sampai jalan kecil depan mesjid. Saya dan kawan-kawan berlari-lari kecil mencari ikan cupang. Karena tak kunjung dapat akhirnya kami bagi dua tim. Satu tim berjaga di ujung selokan. Lainnya berjaga di ujung satunya. Seekor dua ekor kami dapat. Kemudian ikan-ikan itu dimasukkan ke dalam plastik bekas es kacang hijau.
Ketika saya berada di depan selokan, saya lihat seekor ikan cupang berlari gesit. Segera saya ulurkan saringan santan di tangan saya untuk menahan laju ikan itu. Wow, berhasil! Saya tangkap dia dan saya gabungkan dengan ikan-ikan sejenisnya di plastik yang sama. Gairah saya untuk menangkap ikan meluap-luap. Sampai di selokan besar saya masih saja ingin tangkap ikan. Ouw, seekor ikan cupang lewat. Cepat-cepat saya ulurkan lagi saringan santan. Tapi ternyata ikan itu amat gesit.
Buktinya, saya kesulitan ikuti larinya. Yang terjadi malahan saringan santan terlempar begitu saja. Arus selokan membawanya membelok ke selokan yang lebih besar. Saya tak bisa mengejarnya. Saya hanya termenung memandang saringan santan milik mama saya. Sampai di rumah dengan membawa hasil beberapa ikan cupang yang saya dapatkan bukan pujian. Tapi kata-kata marah mama yang kesal saringan santannya saya hilangkan.
Setiap kali saya lihat ikan sampai sekarang saya selalu ingat peristiwa itu. Bermain di air banjir yang kotornya entah campuran dari mana. Dapat ikan cupang. Menghilangkan saringan santan. Basah kuyup karena terciprat air selokan. Tertawa-tawa bersama kawan. Saling dorong ke tepi selokan. Aahhh, senangnya saya punya masa itu. Sekaligus rindu punya waktu yang bisa saya pergunakan sesuka hati. Semoga esok hari atau dua hari lagi saya punya waktu untuk beli ikan cupang. Saya ingin merawatnya. Mengenang masa kecil saya yang punya banyak waktu luang.
Jelang Lebaran di Utan Kayu
Monday, 7 September 2009
Perempuan Berstoking Hitam yang Kesal di Kedai Malam Itu
Sampai akhirnya si lelaki mengeluarkan dompet dari saku celana jinsnya. Ia hendak membayar harga nasi rendang yang habis dilahapnya. Melihat si lelaki memegang dompet yang terbuka, si perempuan segera memasukkan jari-jarinya untuk mengepit lembaran uang di dalamnya. Hap! Tidak kena. Si lelaki rupanya lebih lihai menangkap maksud si perempuan. Sekali dua kali tidak juga kena. Kali ketiga belum juga lembaran uang didapat. Dan, tak pernah si perempuan itu dapat lembaran uang dari si lelaki malam itu.
Lantas, si lelaki beranjak ke luar kedai. Ia menepi sejenak di luar kedai, mengeluarkan ponselnya, dan sibuk berkomat-kamit dengan ponselnya itu. Di dalam kedai si perempuan cemberut. Ada rona kesal di wajahnya. Ia kumpulkan serpihan keripik di atas meja di depannya kemudian meraupnya dengan kasar. Ia kunyah serpihan itu cepat-cepat seperti hendak menelan kekesalannya. Sampai masih tersisa dua serpihan keripik di bawah bibirnya.
Tubuhnya yang kurus itu bergerak tak tenang. Terkadang kakinya ia angkat ke atas kursi di depannya, tanpa peduli rok mininya tersingkap perlihatkan stocking hitam ketatnya. Lalu, ia turunkan lagi kedua kakinya. Menaruh wajahnya di atas meja. Kembali tegak lagi. Memandang ke arah luar kedai. Gerak-geriknya berhenti saat ia memandang tajam seseorang di sebelah mejanya. Setengah berteriak ia mengatai-ngatai lelaki itu.
“Apa yang kau lihat? Ada urusan apa saya dengan kamu sampai kamu melihat saya seperti itu?”
Si lelaki membalas, “Siapa yang melihatmu? Saya menonton televisi. Bukan melihatmu.”
“Nggak usah pura-pura. Saya tahu kamu lihat saya. Siapa sih kamu? Seenaknya saja mendengar dan melihat masalah orang lain. Dari tadi kan kamu perhatikan saya?”
“Loh, ngapain saya lihat kamu? Saya lihat tivi kok.”
“Nggak usah beralasan. Kalau saya lagi kerja di sini, terus kamu mau apa lihat saya begitu? Saya kerja, bukan santai-santai.”
Dan pertengkaran dimulai.
Karena tak juga mengaku, si perempuan berdiri di samping meja lelaki itu. Membungkukkan sedikit badannya dan berkata-kata dengan nada marah. Ia merasa tak nyaman dengan pandangan lelaki itu yang terus-menerus melihat ia dengan lelaki bule tadi. Sedangkan, si lelaki bersikukuh dia tidak melihat apa pun kecuali tayangan tivi yang bertengger dekat dapur.
Karyawan-karyawan kedai mendekati mereka. Ada yang menahan si perempuan. Ada pula yang mencoba menenangkan si lelaki. Selain karyawan ada juga beberapa lelaki bertubuh cukup besar mendekati. Mereka mengaku petugas keamanan di tempat itu. Pertengkaran semakin hebat. Hebat karena si perempuan terus-menerus memaki lelaki itu. Akhirnya si petugas keamanan meminta perempuan itu keluar dari kedai. Dengan tampang kesal si perempuan keluar kedai. Dengan langkah gontai ia berjalan entah ke mana. Ia terus berjalan sambil memegang kantong plastik putih berisi kue kaleng Khong Guan. Mungkin akan disimpannya sampai nanti Lebaran.
Monday, 27 July 2009
Tawa Supir Angkot
“Itu dia busway. Ada sewa, sewa. Yihaa..,” teriaknya sambil meloncat di depan angkot.
Dia bahagia melihat transjakarta yang mampir di halte Pademangan. Sekejap mata pria beruban itu sudah berada di balik kemudinya. Menyalakan mesin mobil kemudian membakar rokok samsunya.
“Ayo naik naik, neng. Udah nggak ada lagi 27. Udah malem. Naik ini aja. Ayo, neng naik. Tar juga ada penumpang lain.”
Sebenarnya saya masih bisa setia menanti kopaja 27 yang melewati daerah rumah saya. Namun, entah mengapa saya turuti kemauan bapak supir angkot. Mungkin saya ingin merasakan kebahagiannya. Atau saya ingin membantunya malam ini dapatkan 2500 rupiah. Belum habis berpikir saya putuskan duduk di sebelahnya. Lima menit kemudian tiga penumpang masuk dan duduk di belakang kami.
“Oke, tariiiik.. Lumayan dapet 4,” ujarnya sambil bawakan angkot.
Saya tersenyum dengar kalimatnya. Senang mendengar dia dapat sewa, walau cuma empat manusia.
Angkot melaju tembus malam. Saya senang duduk di depan karena puas pandangi semua yang terbentang. Tidak banyak kendaraan lalu-lalang. Satu dua ojek motor parkir di pinggir jalan tunggu penumpang. Seorang perempuan berbaju hitam dengan potongan baju berdada rendah lagi berpelukan manja dengan pria berjaket kulit di atas trotoar.
“Ahey, asek,” teriak bapak supir angkot diikuti tawa penumpang belakang.
Saya ikut tertawa, ala kadarnya. Dan entah mengapa itu jadi semangat buat saya untuk bersyukur pada segala. Si bapak supir angkot itu pastinya juga lelah, seperti saya rasakan tubuh saya yang letih tak terkira. Namun ia tetap bahagia dengan segala yang ia dapatkan.