Saturday, 28 May 2011
melahap memori
Untunglah saya masih sadar bahwa saya harus menyeberang jalan besar. Beberapa mobil melintas pelan, saya tekadkan diri untuk menyeberang. Ya, menyeberang jalan yang penuh kendaraan berjalan butuh tekad besar. Saya ciptakan tekad karena di dalamnya banyak kemungkinan. Bisa jadi saya selamat sampai di trotoar seberang, terserempet metromini, terkena asap dari knalpot bajaj yang hitam pekat, atau tertabrak. Setidaknya saya tahu tekad itu sebagai bentuk perjuangan saya melawan kematian. Juga untuk menyelamatkan memori di kepala saya.
Sampai di tepi jalan, sekali lagi, sebelum naik bus, saya kenang satu adegan yang saya sukai. Saya butuh memori itu terulang ketika saya berada di tempat luas. Tidak di bus yang bersekat di depan, belakang, dan samping kanan-kiri. Macam hidup ini cuma ada di kotak itu saja. Jadi, saya usahakan supaya akhir adegan itu selesai bersamaan dengan naiknya saya ke dalam bus. Dan, tepat selesai. Saya naik bus dengan langkah lega. Saya merasa seperti sutradara yang baru saja selesaikan naskahnya. Di dalam bus saya mencoba tidur setelah kasih ongkos ke kondektur. Tidur saya ditemani tembang pengamen jalanan. Ah, saya ini pengonsumsi besar memori liar.
mengundang kantuk
Beberapa minggu terakhir ini, termasuk malam ini, saya sulit tidur. Harus tunggu tertidur. Tidak bisa sengaja tidur. Padahal, saya sudah ciptakan kondisi yang bisa mengantar saya ke alam mimpi. Cuci bersih muka. Ganti baju. Pakai celana pendek. Balurkan minyak buru ke tangan, kaki, dan leher. Setel musik beralun lembut. Nyalakan kipas angin. Tapi cara itu tak berhasil. Saya coba pejamkan mata, tak juga pikiran ini berhenti memutar memori. Akhirnya saya ambil buku-sok-bijak-yang-membosankan kemudian membacanya. Belum juga tidur.
Selama berminggu-minggu itu saya cari cara biar bisa membuat mata ini lelah. Saya nyalakan notebook, duduk baca tulisan dari blog atau facebook atau website. Ternyata berhasil! Lama-lama mata ini pegal juga lihat huruf di layar terang. Kalau sudah terasa pegal, saya naik ke kasur, dan tak berapa lama sudah tidur. Tapi, cara ini butuh waktu kompromi 2-3 jam. Hmm.. mungkin lain waktu saya bisa dapat cari yang lebih ampuh biar kantuk datang lebih cepat.
Wednesday, 11 May 2011
perkara besar buat wartawan kecil
Seorang kawan malam ini mengetik di kamar saya. Ia bilang redaktur di kantor minta ia bikin berita rencana komunitas yahudi di Jakarta merayakan peringatan hari lahir negara Israel. Kawan saya bilang itu rencana kontroversial karena kondisi masyarakat Indonesia yang masih menghitamkan Yahudi dan Israel. “Dan sekarang mau diadain acara begini. Bisa jadi rusuh. FPI mungkin aja nolak,” katanya. Saya tinggalkan dia di kamar, untuk wawancara via telepon dan mengetik berita.
Satu jam kemudian saya datang. Dia minta saya baca beritanya yang sudah jadi dan telah dikirim ke redaktur. Saya baca. Ada pernyataan anggota komunitas Yahudi, soal rencana perayaan. Ketua FPI Jakarta di paragraf selanjutnya, tentang FPI yang akan bubarkan acara. Juga ada orang MUI yang bilang sebaiknya jangan digelar acara itu. Kemudian di paragraf selanjutnya ada omongan 2 anggota DPR yang senada dengan orang MUI. Selesai baca kalimat terakhir saya benar-benar terkejut.
“Kok tulisanmu tidak berimbang begini? Kenapa ga wawancara orang yang berpihak dengan komunitas Yahudi?” Jawab kawan saya, “disuruh kantor. Ambil kutipan dari orang-orang itu.” Dan terjadilah perdebatan di antara kami. Saya menilai beritanya tidak berimbang, tidak mencerminkan kedamaian. Saya anggap ia penyebar kebencian. Dia bilang itu diminta redakturnya. “Tapi saya ga mau seperti itu. Saya mau berimbang, saya mau ada nilai kedamaian pluralisme di dalamnya,” tutur si kawan.
“Jadi, ketika kamu nulis berita tadi kamu memposisikan diri kamu sebagai apa? Sebagai wartawan media A yang disuruh redaktur nulis ini itu? Atau sebagai pribadimu? Kalau sebagai pribadimu harusnya kamu bisa tambah omongan orang yang sejalan sama komunitas Yahudi. Atau orang yang bisa kasih pendapat dari sudut pandang pluralisme,” kata saya.
“Ya, gimana. Saya disuruh begitu. Saya tahu kalau saya nulis omongan orang-orang dari sudut pandang pluralisme atau yang berpihak ke komunitas Yahudi, pasti dihapus orang kantor. Ya lebih baik tidak usah,” kata kawan saya. “Tapi kamu bisa perjuangkan apa yang ada di kepalamu lewat tulisan itu. Walau pada akhirnya dipotong,” jawab saya.
Buat saya, pandangan yang menunjukkan nilai pluralisme, perdamaian, hak-hak minoritas bisa ditunjukkan lewat tulisan. Sekecil apapun itu. Walau pada akhirnya cuma mampir sebentar di kepala redaktur karena kemudian dipotong. Setidaknya eksistensi penulis hadir di tulisannya. Tidak cuma maunya kantor atau maunya redaktur. Atau bisa saja kalimat-kalimat yang mengandung nilai itu diamini redaktur dan dinaikkan jadi berita, dibaca banyak orang.
“Saya tahu kantor saya pasti potong kalau saya nulis begitu. Jadi lebih baik ga usah,” kata si kawan. Dia diam. Lalu gusar. “Nurani saya menolak begitu. Saya ga benci Yahudi. Cuma kantor kan ikut pasar, ikut pandangan masyarakat,” katanya lagi. Lalu perdebatan kami berhenti. “Ya sudah, kalau kantor berkata begitu kita pekerja kecil begini mau berbuat apa. Kita dibayar karena disuruh kerjakan maunya mereka,” kata saya.
Saya senderkan tubuh di bantal besar. “Lalu apa gunanya media massa kalau begitu? Kalau cuma memelihara kebencian lewat berita-berita yang diproduksinya. Kapan masyarakat kita bisa melihat manusia bukan dari agama atau rasnya?” kata saya. Perkataan itu cuma gumaman buat diri sendiri. Mungkin juga buat dinding kamar yang seperti biasa tidak pernah kasih jawaban. Akhirnya kami hanya bisa menghibur diri dengan lagu Sugalih dari Iwan Fals. Ya, apa yang bisa kami harapkan dari wartawan-wartawan kecil seperti saya dan kawan saya di hadapan kantor yang punya kuasa besar?
Thursday, 24 March 2011
Matahari Masih Bersinar, Kawan..
Keep rock, dude! *bergitar ala mbah surip di jembatan sarinah*
Manusia butuh bekerja. Tidak hanya untuk cari uang, melainkan – yang utama – eksistensi diri.
Malam sudah datang ketika saya berbincang dengan Intan sembari berjalan di halaman luas Senayan. Hari itu kami janjian bertemu di gramedia book fair. Intan cerita dia sudah melembekkan batasan pekerjaan yang ia lamar. Jadi, setelah keluar dari tempat kerjanya beberapa minggu lalu, Intan melamar ke banyak perusahaan. Tadinya, ia ingin sekali jadi PNS. Tapi semua lamarannya ditolak. Intan, seingat saya, dari awal lulus kuliah tak ingin bekerja di media massa, bank, dan perusahaan dengan jenis pekerjaan marketing.
“Sekarang gue merasa ga berarti, ga punya apa-apa karena ga ada pekerjaan. Akhirnya gue melamar semua lowongan kerja,” katanya. Kalimat yang meluncur di jembatan penyeberangan itu tak saya tanggapi. Saya lihat raut wajahnya. Ada pahit di sana. Ia melamar ke perusahaan beridentitas jelas alias terkenal sampai tak beridentitas. Ada perusahaan marketing, ada pula perusahaan perkebunan kelapa sawit.
Setelah beberapa hari keluar dari tempat kerjanya di sebuah restoran di Jakarta Selatan, Intan uring-uringan. Kerjanya hanya mengirim lamaran. Itu pun dibantu si kakak. Kakaknya mencari-cari lowongan pekerjaan via internet, dikumpulkan, dan dikirim ke Intan. Selebihnya, ia tidur di rumah. Ia pun sulit sekali diajak bertemu. Tapi, untunglah, Intan tak menyerah. Suatu hari dia bilang dia hendak kursus Bahasa Belanda. Dan, tak lama berselang, ia sudah jadi anggota kursus Bahasa Belanda di Erasmus Huis. Kalau tak salah 2 kali seminggu ia pergi ke sana.
Sampai sekarang Intan belum bekerja. Ia tengah mengurus bapaknya yang harus keluar-masuk rumah sakit. Kemarin, dia mengajak bertemu setelah ia interview di satu perusahaan di Bendungan Hilir. Dari isi SMS-nya ia nampak baik-baik saja. Semoga ia tetap punya semangat untuk cari pekerjaan yang ia inginkan. Sabtu besok saya ingin bertemu dengannya. Bercerita soal pekerjaan saya, juga pencarian pekerjaan Intan. Oiya, dan cerita-cerita kehidupan lainnya.
Monday, 24 January 2011
sejenak tinggalkan Jakarta, ini yang saya mau !
Saya putuskan ke Indramayu, Jawa Barat, kemarin. Sudah lama, hampir 2 bulan mungkin, saya ingin ke luar Jakarta. Ingin meliput sesuatu yang menarik di luar ibukota, merasakan udara bersih, memandang langit cerah, berkawan dengan senyap, dan mengenal manusia lain di tempat berbeda.
Maka, pergilah saya ke Pasar Rebo kemarin pagi. Saya naik bus Luragung tujuan Kuningan. Di Eretan, 1 jam sebelum kota Indramayu, saya menapakkan kaki. Dan, segera bau amis ikan menyerang hidung saya. Ah, iya, ini dia yang saya cari ! Senangnya berada di luar Jakarta. Bahagianya saya menghindari kerutinan.
Bila di Jakarta saya mengetik berita di kantor, maka sekarang saya tengah mengirim berita dari warnet Double Click di kota Indramayu. Setelah setengah jam lalu saya turun dari becak yang mengantar saya dari hotel tempat saya bermalam. Ya, ini dia yang saya mau ! Pergi sendiri di tengah keasingan.
Ketika mengetik berita di warnet, sekarang ini, badan saya masih saja pegal. Sisa-sisa kelelahan ini masih menempel setelah saya berpusing-pusing di Desa Dukuh Kerupuk, dekat terminal Sindang. Juga sisa kecapaian sehabis mewawancarai pengusaha batik indramayu. Tapi saya tidak capai hati, karena ini yang saya cari ! Rasa lelah sehabis liputan. Juga kepuasan setelah berjalan kaki dan mewawancarai orang-orang.
Tuesday, 14 December 2010

Ini OO, kura-kura saya. Dia berjenis radiata. Perempuan satu ini asalnya dari Madagaskar, satu negara pulau di Samudera Hindia sana. Masih balita dia, baru 10 bulan. Saya dapatkan dia dari seorang kawan amat-dekat. Si kawan ini sebenarnya membeli kura-kura itu untuk dijual ke kawan lain. Namun, ketika tahu saya suka ketika kali pertama melihat hewan reptil ini, ia langsung memberikan ke saya.
OO makan banyak saban hari. Kesukaannya sawi hijau dan selada. Seikat sawi hijau yang berisi 7 hingga 8 lembar sawi bisa dihabiskan sehari. Selada pun sama banyaknya. Pagi keesokan hari ia akan menghiasi lantai kamar saya dengan kotorannya, berjalan menyeret sisa kotoran, dan duduk di atas kertas memberi tanda ia sudah beres buang air besar. Saya cuma bisa mengumpat sambil memegang OO dengan gemas. Lantas, mencuci dan menyikat tubuhnya dengan sikat gigi kecil. Si kecil ini pun suka jilat remah-remah biskuit.
OO sekarang saya tinggal di kamar. Jalan-jalan saja kerjanya. Sesekali dia duduk lama, menggerakkan kepala ke kanan-kiri, entah melihat apa. Ini beda dengan dulu ketika saya baru mendapatkannya. Dulu, saya kerap membawanya ke tempat liputan. Biasa saya taruh di tempat kue bundar yang saya ambil dari lemari dapur rumah. Saya masukkan ke tas dan memberinya celah udara lewat resleting tas yang sedikit terbuka.
Rencananya, OO akan ikut kontes jalan cepat kura-kura bulan depan. Tak harus menang, OO. Yang penting kamu bisa bertemu kawan-kawan baru.
Malam dengan tak ada makanan untuk OO
semangat fatamorgana untuk tempat anda
Saban bangun pagi saya yakinkan diri untuk bersemangat ke tempat anda. Semangat yang didedikasikan untuk semangat. Dan, mulailah saya mandi, berpakaian, merapikan tas, dan melenggang ke tempat anda. Sampai di sana sana menyapa seorang manusia di bawah, kemudian jika ada sapa sedikit manusia yang saya temukan di tengah tangga. Lantas, saya berhadapan dengan pintu anda. Sejenak saya berdiri terpaku di depannya untuk merapikan semangat.
Saya buka pintu, melangkah, dan melewati beberapa manusia yang tampak sibuk. Sampai-sampai tak menoleh untuk mengatakan “hai” atau “selamat pagi” atau “apa kabar”.
Dan, sampailah saya di depan kursi yang sudah menjadi kursi-saya. Menekan tombol power pada CPU sampai menunggu layar komputer hidup. Tengok kiri-kanan, ada si manusia ini, ada manusia itu, ada manusia anu. Seperti biasa, semua manusia tampak sibuk di depan komputer. Kala layar monitor sudah menyala, mulailah saya menjadi manusia yang lakunya serupa dengan manusia lainnya.
Semangat masih ada, saudara-saudara. Ya, masih ada. Buktinya, jari-jari tangan saya sibuk menekan tuts keyboard. Terkadang saya sibuk dengan gagang telepon, bicara ini-itu, sambil garuk-garuk kepala. Semua berjalan seperti itu sampai tiga jam, lima jam, tujuh jam. Terus begitu. Sampai semua hal yang saya lakukan dinyatakan selesai. Dinyatakan oleh warna-warna di layar monitor.
Lagi, seperti biasa, saya sadari semangat itu sudah tiada. Semangat untuk dirinya sendiri, semangat untuk semangat. Lantas, saya berjalan keluar, melangkah gontai ke arah pintu sambil memegang botol minum yang airnya sudah tak ada. Selesai. Tugas saya selesai. Dan, manusia-manusia itu masih sibuk. Tak menoleh atau mendongak sedikit pun.
Keluar tempat anda saya bernafas lega karena saya tahu saya sudah menjadi manusia sesungguhnya dan akan bertemu manusia lain yang juga sesungguhnya. Bukan manusia di tempat anda yang sudah beridentitas robot.
Hari yang menjemukan usai keluar dari tempat anda.