Saturday, 7 March 2015
Tidak Ada Senja di Ora
Wednesday, 3 December 2014
Betapa...
Tuesday, 21 October 2014
Instan
Saturday, 18 October 2014
Sabtu Senang
Monday, 24 December 2012
cảm ơn, Hồ Chí Minh
|
Mobil jip
yang membawa Presiden Duong Van Minh dari Independence Palace
ke Stasiun Radio Saigon. Di sana,
30 April 1975, dia mendeklarasikan penyerahan pemerintahan revolusioner.
|
|
Pembunuhan
massal di desa My Lai. Foto yang diambil dari The Guardian ini dipajang di Reunification Palace.
|
|
Patung
berkuda Jenderal Tran Nguyen Han. Letaknya di Distrik 1, tidak jauh dari Pham
Ngu Lao, di seberang pasar Ben Thanh.
|
| Reunification Palace |
|
Ruang
latihan menembak di Reunification
Palace
|
|
Koleksi
kaki gajah asli di Reunification
Palace
|
|
Koleksi tanduk, lantai 3 Reunification Palace
|
|
Reunification Palace
|
|
Mimbar
Paman Ho di Reunification
Palace
|
Reunification Palace. Kediaman presiden sekaligus
penanda sejarah berakhirnya Perang Vietnam 1975. Banyak ruangan mewah di dalamnya.
|
|
Semacam
burung garuda, lambang Indonesia
|
|
yang segar
di pasar Ben Thanh
|
Saturday, 15 September 2012
berbagi di taman suropati
Friday, 6 April 2012
balada husein dan rindu itu
Baru saja saya kirim SMS ke Pak Husein. Dia kawan saya, sekitar 40 tahun, tinggal di Pulau Kelapa, satu pulau di Kepulauan Seribu sana. Saya bilang mau main ke pulau. Dia balas SMS saya cepat, “sudah lupa dengan pulau ya?” Saya balas diawali tawa “hahaha.. tidaklah, pak. Rindu saya pada itu pulau.”
Dan, kami sepakat bertemu pekan depan.
Terakhir kali saya datang ke sana akhir Desember 2011, hampir masuk angin barat kata orang pulau. Saya berkenalan dengan Pak Husein karena tugas liputan saat saya di halaman agribisnis. Sebenarnya bukan tugas liputan dari kantor, tapi saya lolos dapat beasiswa liputan sebuah lembaga wartawan ternama di Indonesia. Saya kirim proposal tentang dampak perubahan iklim terhadap nelayan di Kepulauan Seribu, lolos, dapat dana liputan, dan saya pergi ke sana. Hitung-hitung, 4 kali saya ke sana, masing-masing tiap akhir pekan.
Perjumpaan saya dengan pak Husein terjadi ketika saya dirundung lemas belum dapat narasumber. Waktu itu, awal Desember, saya naik kapal dari Pulau Seribu ke Pulau Kelapa. Di atas kapal, duduk di kabinnya, seorang bapak memandangi saya agak lama. Dia buka tanya saya ke mana, saya jawab, dan mengalirlah percakapan.
Pak Husein nelayan sejak berusia 16 tahun. Seperti kebanyakan nelayan, dia sudah berkawan dengan laut sejak tangisnya pecah keluar dari kandungan. Ayahnya pelaut, sudah mengenalkan alam laut kepadanya sejak bocah. Sering dia temani ayahnya cari ikan di sekitar Pulau Kelapa. Dari ayahnya dan nelayan-nelayan lain dia belajar membaca angin dan langit. Setibanya di rumah, Husein kecil ikut bantu bersihkan ikan sisa tangkapan yang tidak dijual ke tengkulak.
Hari-harinya begitu hingga pertengahan 2011 hidupnya berubah. Pak Husein tidak hanya jadi nelayan, dia lakoni pula kuli dermaga di pulau-pulau yang baru bermunculan milik orang-orang kaya. Katanya, penghasilan dia lumayan besar ketimbang jadi nelayan. Saban hari dari nguli dia bisa peroleh Rp60.000. Sedangkan, dari melaut dia cuma bisa hasilkan Rp150.000, itu kalau dapat ikan selar 50 kg setelah dua hari terombang-ambing di laut. Seringkali tangkapannya kurang dari 50 kg.
Sampai Desember dia lakoni dua pekerjaan itu, sambil sesekali keliling ke pulau-pulau lain mengumpulkan fotokopi KTP warga untuk meloloskan seorang calon independen gubernur Jakarta. Kalau KTP sudah terkumpul banyak di tangan, dia bawa itu benda ke Jakarta dan menyerahkannya ke sekretariat. Bila ingatan saya benar, dari sebuah KTP dia dapat Rp1.000. Tak seberapa memang. Tapi, bagi Pak Husein itu bentuk bantuannya untuk menggolkan si kawan lama.
Kali terakhir bertemu Pak Husein Januari lalu. Kami obrol banyak hal menyenangkan di sebuah tempat ngopi di Jakarta Timur. Dia datang ke sana untuk sodorkan kumpulan fotokopi KTP sekaligus jenguk anak perempuannya yang kerja jadi tukang sapu di sekretariat.
Pak Husein ini suka bercerita lucu, kadang konyol sampai saya bingung ceritanya sungguh fakta atau rekaan belaka. Macam ini:
“Suatu hari saya melaut dengan seorang kawan dari Flores di sekitar Seribu. Mendadak angin kencang dan langit gelap. Perahu saya sampai terbalik dan menenggelamkan kami. Saya bisa berenang makanya saya tidak tenggelam. Waktu saya sudah di permukaan laut, kawan saya ini belum muncul kepalanya. Tapi saya yakin nanti kepalanya timbul karena orang tenggelam itu masuk dulu ke dalam air baru nanti muncul lagi di permukaan kemudian turun tenggelam. Nah, ternyata benar kawan saya itu muncul. Mukanya tegang dan berteriak-teriak ‘Tuhan Yesus tolong saya!’ Saya pegang tangannya sambil bilang ‘Tuhan Yesus sudah datang.’ Saya bawa dia ke dekat perahu yang terbalik sehingga dia bisa pegang kayu dan masih bisa hidup.”
Pak Husein bilang pekan depan kami main ke laut dengan perahu kawannya. Semoga perahu itu tidak terbalik. Saya juga rindu dengan istrinya, Ibu Rapiah. Dia pernah menelepon saya bilang mau bikin ikan pari pakai parutan kelapa kalau saya datang.
Sunter, hujan masih belum juga pulang.
Friday, 9 March 2012
Rutinitas
Ada satu pagi saya terhenyak setelah bangun tidur yang tidak lelap. Saya temukan diri saya hidup dalam rutinitas yang teramat sangat rutin. Saya buat ingatan saya mundur, ke beberapa hari lalu, ke beberapa minggu silam. Dan, hampir pasti 100% semuanya serupa.
Begini isi rutinitas itu. Bangun, saya ambil dan buka netbook buat cek berita di beberapa laman, beranjak keluar kamar, kemudian minum air putih segelas dua gelas. Kembali lagi ke kamar, lihat jadwal liputan, mencari materi liputan di internet. Carilah itu materi di berbagai laman, tengok jam, dan saya terkejut bahwa jam liputan sudah hampir tiba.
Saya keluar kamar, ambil handuk, berlari-lari kecil ke kamar mandi, gosok badan secepat saya bisa, beres-beres, dan jadilah saya berkemeja dengan jins seadanya. Ambil handphone saya kirim sms ke tukang ojek minta diantar jam sekian. Terburu-buru saya matikan netbook, gulung berbagai kabel – charger hp, charger netbook, earphone –, dan memasukkan benda-benda yang saya kira berguna untuk liputan nanti ke dalam tas. Pakai sepatu di depan kamar, lantas berteriak pamit ke manusia yang ada di rumah, juga ke dua anjing dan seekor burung hantu.
Sampai di depan pagar rumah saya temukan tukang ojek sudah menanti. Sambil naik saya berujar “Ke Sudirman (atau apalah tempat liputan) dan jalan cepat ya, pak.”
Mulailah saya buka sms, bbm, e-mail, dan whatsapp di atas motor yang mengebut. Baca cepat dan membalas pesan. Tiba di Kemayoran saya akan tengok kanan-kiri melihat kendaraan yang saling ngebut macam di arena sirkuit. Tapi, tidak begitu lama karena saya kembali melihat handphone. Motor yang saya tumpangi bergerak semakin lambat karena masuk wilayah Jakarta Pusat yang pastinya dipadati banyak kendaran. Saya akan mengeluh ke bapak ojek dengan keluhan yang itu-itu juga “duh, macet ya pak.” Lantas, si bapak ojek akan meliuk-liukkan motornya mencari celah jalan yang agak lowong untuk ditembus. Dan sampailah kami di tempat liputan saya.
Rutinitas itu saya jalani lima hari dalam sepekan. Gila! Saya ini macam robot, tak bernyawa.
Saya duduk di atas kasur, pagi itu, membayangkan keping-keping rutinitas yang saya lakukan. Dan, saya merasa sepi hati, kosong pikiran. Saya pandangi itu gelas kopi yang masih menyisakan setengah kopi hitam. Mungkin semacam itu, setengah kesadaran diri saya kosong. Atau mungkin lebih.
Agak sentimentil, saya jadi sedih. Menghitung segala hal manusiawi yang sudah luput diambil rutinitas pagi. Tidak lagi saya dengar mama bercerita soal pasiennya yang hamil muda, si tetangga yang kerjanya sebagai tengkulak, si bapak anu yang tidak diperhatikan lagi anaknya. Tak dengar lagi manusia di rumah bicara soal Bruno yang kebelet kawin dengan anjing depan rumah atau si Burhan yang sudah bisa terbang hingga atap rumah.
Tak lagi saya temukan diri saya duduk menyeruput kopi sambil nonton berita atau baca jadwal film bioskop di koran.
Banyak kisah hilang, banyak kegiatan yang saya ingin lakukan tanpa saya sadari kandas begitu saja. Dan, itu menyedihkan. Sangat.
Sunter, setelah hujan.
Tuesday, 25 October 2011
Pulang Bawa Ngantuk
“Pulang bawa ngantuk. Lebih baik Oni bawa sosis,” kata bapak.
Saya cuma senyum sambil melirik sedikit ke bapak saya. Sambil berjalan bawa kantuk ke dalam kamar. Dalam pikiran saya benarkan itu kalimat. Saya memang pulang bawa kantuk, terlihat dari mata yang selalu meredup minta dibawa lelap. Sedangkan, Oni adik saya yang baru satu bulan bekerja di sebuah perusahaan penghasil sosis asal Filipina bisa bawa pulang sekardus sosis. Katanya, sosis itu hasil kelebihan produksi pabrik.
Entah berapa banyak batang sosis itu. Waktu saya tengok freezer kulkas, tumpukan sosis sudah merambah bagian atas-bawah-kanan-kiri freezer. Tak ada tempat tersisa. Kardus kosong ditinggal di sebelah kulkas.
Saya iyakan kalimat bapak karena saya tak membawakan sosis seperti yang diperbuat adik. Saya amini kalimatnya karena tak bawakan dia cerutu Adipati kesukaannya. Saya akui kalimatnya karena tak bawakan rokok Gudang Garam Merah favoritnya.
Padahal, hampir tiap pagi sebelum saya berangkat dari rumah dia lontarkan kalimat sindiran minta dibawakan cerutu atau rokok. “Rokok sudah habis.” Atau “pembantu dikasih gaji, orang rumah cuci baju sampai gembok pagar tidak dikasih gaji.”
Bapak tiap hari cuci baju keluarga. Sehari tiga kali dia bisa cuci baju. Sambil menunggu baju kering, dia baca buku atau main organ. Kalau baju sudah ringan meliuk-liuk ikuti arah angin pertanda sudah kering, dia kumpulkan baju-baju itu, kemudian menyetrikanya. Malam hari, setelah saya masuk ke dalam rumah, dia ambil gembok dan mengunci rapat pagar. Itu memang pekerjaannya. Buat sebagian besar kawan saya yang tahu pekerjaan bapak saya, pasti heran dan bertanya “kok begitu kerjanya?” Ya, memang itu pekerjaannya. Bapak saya akan marah kalau pekerjaannya dirampungkan orang lain.
Mungkin saya terlalu sibuk dengan diri dan pekerjaan hingga tidak ingat permintaan bapak. Setelah kalimat sindiran menghujani telinga, keluar pagar rumah jalan beberapa langkah, saya sudah lupa kalimat itu. Sudah pasti kembali ke rumah saya tak bawa oleh-oleh. Cuma kantuk yang saya bawa. Maafkan saya, pak. Besok, setelah saya tulis ini, saya pastikan ingat. Sudah saya masukkan masukkan agenda beli cerutu Adipati di alarm handphone.
Sunday, 4 September 2011
cemburu
Datangnya malam kemarin, subuh malah sekitar jam 3. Dia terasa saat saya buka akun facebook-nya. Saya melihat banyak pengetahuan mengalir masuk ke dirinya. Pengetahuan yang dulu ingin saya serap, tapi tak pernah sempat. Pengetahuan itu ia makan, kunyah, ditelan, dan dicerna. Begitu terus tanpa berkesudahan hingga rasanya pengetahuan itu begitu melimpah di dirinya.
Termenung saya. Cemburu itu hinggap. Ah, rasanya tak enak cemburu terhadap teman sendiri.
Tapi dari mana cemburu itu bisa datang? Pastinya karena sesuatu yang saya harapkan ada di diri saya, kenyataannya tidak ada di saya. Melainkan ada di dia. Saya tidak mau berhenti hingga di rasa cemburu itu. Pikir-pikir, dia punya kondisi materialis yang mendukungnya menyerap pengetahuan itu. Dan kondisi materialis itu adalah waktu luang. Itu yang tidak saya punya!
Kalau sudah terbentur pada alasan memiliki-kondisi-materialis, saya menyerah. Menyerah berpikir lebih jauh lagi, menyerah untuk merasa lagi. Dan, saya harus merendah hati menyadari dengan sesadar-sadarnya bahwa dia punya waktu luang, saya tidak.
Ya, saya harus akuir saya tidak punya waktu luang. Habis waktu saya untuk kerja, melewati kemacetan Jakarta, dan istirahat karena lelah bekerja dan merayapi jalanan Jakarta. Alangkah menyedihkannya menjadi pekerja ibukota, tak berwaktu luang, tak meresap pengetahuan, sehingga hasilkan rasa cemburu pada teman sendiri.
.jpg)







